Skip to main content

Source Code : Ini Aku Tapi Bukan Aku

cr : pinterest
Kapten Colter Stevens (Jake Gyllenhaal) terbangun dikereta api Jurusan Chicago bersama seorang wanita bernama Christina (Michelle Monaghan) yang duduk tepat didepanya sambil berkata bahwa ia menerima saranya―atau pria bernama Sean yang digunakan Christina untuk memanggilnya. Tapi Kapten tau benar, bahwa ia tidak punya panggilan alias apapun kecuali namanya sendiri. Ia juga tidak paham siapa gerangan wanita cantik yang duduk didepanya. Ia merasa ia tidak sedang pergi ke Chicago―karena yang ia ingat ia sedang perang di Afganistan. Kejadian selanjutnya, kopi tumpah, orang turun dengan sepeda lipatnya, dompet ketinggalan dan semua hal-hal kecil terjadi berurutan terasa seperti dejavu bagi Kapten. Ia panik, meninggalkan Christina ke kamar mandi. Ia tidak ingin kencing. Hanya sedang berusaha menenangkan diri. Paling tidak, dengan memastikan satu hal.

ini aku! tapi bukan aku!

Bukan cuma sinetron ya yang bisa begitu ternyata film sci-fi Mark Gordon yang disutradai Duncan Jones ini bisa begitu juga. Terbang dempet sama film bergenre sama yang dibintangi Di Caprio Inception (2010) membuat film ini jadi nggak sebooming itu. Tetapi setelah baca reviewnya di blog review kesayangan; Movfreak yang ternyata dia sendiri ngasih bintang 4 dari 5 bintang, aku langsung, wah boleh nih. Apalagi Jake Gyllenhaal loh ini bintang filmnya. Setelah letih menatap buku untuk bahan ulangan esok hari, aku memilih istirahat sebentar dengan menonton film yang sudah masuk watch-list. Dan pilihanku jatuh kepada Source Code. 

Di awal film aku masih bingung sama sekali, selayaknya Kapten―aku cuma tau film ini punya scene time-loop. Aku melewati sepuluh menit pertama dengan kepala pusing sampai ditengah-tengah perdebatan Kapten dan Christina kereta itu meledak. Iya, meledak. Sama seperti yang ada di trailer filmnya. Tapi keterkejutan belum selesai sampai disitu.

Daripada mati, Kapten Stevens justru bangun dan mendapati Goodwin (Vera Farmiga), seseorang yang ia kenal memberinya komando lewat sebuah layar yang menempel di kapsul tempat "tubuhnya" dikurung. Ia kira dengan bertemu Goodwin, semuanya akan jelas. Tapi ternyata ia salah. Goodwin tidak mengatakan apapun kecuali tugasnya yang harus mencari siapa pelaku bom kereta itu lewat suatu "momen" yang diingat Sean.

Terdengar bikin cape ya? Tapi jangan khawatir! Meskipun bukan film fiksi yang bikin kita tiba-tiba loading lama kaya Inception, Source Code memberikan kita adegan time-loop yang harusnya ngebosenin jadi mengasyikan. Lewat bagaimana Kapten Colter menghadapi setiap kejadian Christina yang duduk didepanya, kopi tumpah, orang turun dengan sepedahnya, dan dompet ketinggalan. Aku nggak jenuh, atau mengerutkan dahi bingun selama film ini berlangsung―karena semuanya terasa make-sense. Hubungan yang berawal dari kasihan antara Christina dan kapten tidak terasa janggal, meskipun tidak membuatku lalu ngekapal mereka berdua.

Berakhir dengan biasa saja, namun memberi kesan luar biasa. Source Code mulai dari saat itu fix menjadi salah satu film favoritku.

Image result for thumbsup78%

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kampanye Random People

Pernah nggak sih kepikiran, 'Ah, postingan gue random banget gila'. Nggak berfaedah dan lebih parahnya lagi, nggak ada visitors yang sudi baca apalagi menanggalkan komen di kolom komentar! Duh, kehidupan di alam dunia yang fana ini sudah anti-sosial-sosial-club, masa di dunia maya sebegitu suramnya. Karena saya juga merasakan hal suram itu gue pun memutuskan untuk bikin;   Random ( noun .) tidak teratur. jadi pemikirannya sedang tidak taratur/acak- acakan. Begitulah kiranya random menurut kitab gaul. Nah jadi maksudnya Random People tuh apa sih? Jadi seperti yang udah dipapakarkan diatas ya, ini kampanye khusus buat kalian yang blognya berkonsep 'aku' banget. Nge-post se-egois kamu, apapun yang kamu suka, kamu post begitu aja, masa bodo mau ada yang komen apa enggak. Nah, saya pengen ngajak blogger setipe itu untuk bareng-bareng saling men support satu sama lain. Kali aja nanti kita bisa jadi komunitas yang besar dan punya kegiatan sosial juga, iya kan? ...

Wajah Kita Hari Ini

Tahun 2003 silam, Emha Ainun Nadjib pernah menulis artikel untuk menanggapi carut-marut konflik Raja Dangdut dengan budaya goyang ngebor yang 'katanya' dilekasi Inul. Tajuknya pun gak kalah panas; Pantat Inul Adalah Wajah Kita Semua , tulisnya. Dalam artikel itu, Emha mencolek Sang Raja Dangdut, sebagai figur Bapak dari masyarakat dangdut yang adalah anak asuhnya. Ketidaksetujuan Bapak Dangdut atas perilaku nge- bor Inul dianggap Emha sebagai perilaku yang tergesa-gesa dan tidak bijaksana. Karena sesungguhnya goyang nge- bor nya si Inul adalah rekapitulasi budaya dangdut yang sadar atau tidak sadar sudah dibiarkan Raja Dangdut untuk tumbuh dalam Kerajaannya. Kemana si Bapak Dangdut sewaktu budaya ini marak di pelosok tanah air? Kenapa seakan-akan baru sadar akan keberadaannya ketika goyang Inul nge-top? Sebenarnya yang dimusuhi itu goyangnya atau kenge-top-annya? Kemana perginya kepedulian itu ketika industri dangdut kita yang kapitalistik ini memupuk budaya goyang aurat? Hari ...

Blue Eye Samurai: Epos Keberingasan Dendam Yang Setia pada Keaslian

Saya adalah penikmat segala jenis media yang berasal dari negeri mata hari terbit. Mulai dari literatur, komik sampai film, semuanya saya lahap habis. Mau bagaima lagi, semua orang tau seberapa pandai orang Jepang bikin cerita yang menarik. Apalagi dengan berbagai refrensi kehidupan romantis di era feudal Jepang yang susah dan penuh tantangan. Kehidupan berdarah seorang tentara militer samurai. Malam-malam panas para pelacur di distrik merah Kyoto. Pastinya, orang Jepang gak akan kehabisan material untuk diceritakan.  Makanya, saya, secara jujur, mendeklrasikan diri sebagai salah satu dari sekian banyak orang yang keras menkritik media orientalis. Dalam konteks ini, saya memaknai media orientalis sebagai segala media berbau ketimur-timur-an yang diproduksi oleh orang-orang kulit putih. Seperti Geisha (2005), dan Shogun (2024), yang baru-baru ini menang Emmy. Sebuah media yang ditulis dengan tangan kedua, menurutku, akan sulit untuk menggapai esensi ekslusif yang hanya bisa diketa...