Skip to main content

Posts

Wajah Kita Hari Ini

Tahun 2003 silam, Emha Ainun Nadjib pernah menulis artikel untuk menanggapi carut-marut konflik Raja Dangdut dengan budaya goyang ngebor yang 'katanya' dilekasi Inul. Tajuknya pun gak kalah panas; Pantat Inul Adalah Wajah Kita Semua , tulisnya. Dalam artikel itu, Emha mencolek Sang Raja Dangdut, sebagai figur Bapak dari masyarakat dangdut yang adalah anak asuhnya. Ketidaksetujuan Bapak Dangdut atas perilaku nge- bor Inul dianggap Emha sebagai perilaku yang tergesa-gesa dan tidak bijaksana. Karena sesungguhnya goyang nge- bor nya si Inul adalah rekapitulasi budaya dangdut yang sadar atau tidak sadar sudah dibiarkan Raja Dangdut untuk tumbuh dalam Kerajaannya. Kemana si Bapak Dangdut sewaktu budaya ini marak di pelosok tanah air? Kenapa seakan-akan baru sadar akan keberadaannya ketika goyang Inul nge-top? Sebenarnya yang dimusuhi itu goyangnya atau kenge-top-annya? Kemana perginya kepedulian itu ketika industri dangdut kita yang kapitalistik ini memupuk budaya goyang aurat? Hari ...

Blue Eye Samurai: Epos Keberingasan Dendam Yang Setia pada Keaslian

Saya adalah penikmat segala jenis media yang berasal dari negeri mata hari terbit. Mulai dari literatur, komik sampai film, semuanya saya lahap habis. Mau bagaima lagi, semua orang tau seberapa pandai orang Jepang bikin cerita yang menarik. Apalagi dengan berbagai refrensi kehidupan romantis di era feudal Jepang yang susah dan penuh tantangan. Kehidupan berdarah seorang tentara militer samurai. Malam-malam panas para pelacur di distrik merah Kyoto. Pastinya, orang Jepang gak akan kehabisan material untuk diceritakan.  Makanya, saya, secara jujur, mendeklrasikan diri sebagai salah satu dari sekian banyak orang yang keras menkritik media orientalis. Dalam konteks ini, saya memaknai media orientalis sebagai segala media berbau ketimur-timur-an yang diproduksi oleh orang-orang kulit putih. Seperti Geisha (2005), dan Shogun (2024), yang baru-baru ini menang Emmy. Sebuah media yang ditulis dengan tangan kedua, menurutku, akan sulit untuk menggapai esensi ekslusif yang hanya bisa diketa...

Bila Kesempurnaan Adalah Manusia

Industri film dibanjiri banyak sekali orang-orang yang enggak cuma berbakat, tetapi juga sedap dipandang. Memang sih, keelokan fisik didepan kamera merupakan salah satu jobdesk mereka. Hanya saja manusia bukanlah makluk yang sempurna, keelokan rupa dan performa seorang aktor kadang-kadang enggak berjalan selaras. Tetapi hal itu enggak berlaku buat Alain Delon .  Lahir dari keluarga yang sama sekali enggak  nyeni , Alain bukan seseorang yang mengharapkan bermain peran sebagai mata pencaharian. Alain kecil adalah seorang cowok bandel yang pernah dikeluarkan dari sekolah karena gayanya yang berandal.  Setelah orangtuanya bercerai, Alain terpaksa hidup bepindah-pindah dari satu orangtua angkat ke orangtua angkat lain, karena pengambilan hak asuh bersama yang dilakukan kedua orangtuanya selalu berakhir dengan enggak memuaskan. Alain juga sempat bergabung dalam Angkatan Laut Prancis dan berperang di Indochina saat masih berusia tujuh belas. Alain memulai karir aktingnya pa...

The July 2020 Playlist

my spotify art look like shit tbh wah enggak kerasa global pandemic bernama corona ini udah melanda bumi hampir empat bulan lamanya. sejujurnya aku mulai losing interest sama kehidupan apocalyptic ini, soalnya kerjaanku selama dirumah aja enggak jauh-jauh dari dengerin musik, rebahan, dan nonton film. mau produktif juga mager banget, apa lagi aku juga harus belajar buat tes masuk perguruan tinggi. walaupun begitu,  bukan berarti 2020 is entirely bad dong. meskipun 2020 ini pain-in-the-ass, paling enggak ada satu dua hal yang baik. salah satunya adalah plelylis aku ehe.  disclaimer! aku ini tim kentang dalam permusikan, jadi aku enggak gitu paham tentang genre musik dll, but i tried my best*thanks to google anyway. jadi belakangan--gara-gara nonton series yang vibenya old country gitu, playlist-ku jadi ada variasi genre. yang tadinya full pop , sekarang jadi ada country, alternative-rock , sama folk . lumayan supaya telingaku gaulnya luas. terimakasih kepada peaky blinder...

The Tragic Hero

sadar tidak sadar, belakangan karakter-karakter film maupun literatur tidak lagi secara jelas menggambarkan baik dan buruk, sebaliknya penulis seringkali menempatkan karakternya dalam keabu-abuan, dimana kebenaran dan kejahatan sulit untuk dipisahkan. beberapa karakter kesayangan kita bahkan berbuat kriminal dan kelihatan keren dengan aksi kriminalnya. sebetulnya sejak awal abad XX industri film amerika alias hollywood sudah akrab dengan kecendrungan ini. sebut saja don corleone dalam trilogi the godfather (1972-1990) , tony montana dalam scarface (1983) dan masih banyak lagi. sebelum masuk dalam topik pembahasan mari kita mengklasifikasikan jenis karakter dalam peran sosialnya: karakter yang memang baik sejak lahir biasa disebut hero . karakter semacam ini biasanya berjiwa pahlawan dan tak kenal pamrih. apabila seseorang berbuat jahat padanya dia memilih memaafkan ketimbang balas dendam. pokoknya dia ini sangat baik, saking baiknya dia mungkin bakal terlihat seperti ...

so i was...

so I was just finished watch a reaction video of my favorite beauty blogger, Susan Yara. she was reacting to Bella Thorne's night skincare routine in harper's bazaar's go to bed series. I'm not going to talk about how Bella did her night routine, because I think everybody knew how terrible it was. what I want to point out is how Bella makes me realize something is wrong with my way of thinking. I was just scrolling at the comment section of that video when I found this: I know some people called it normal for people at my age to be stubborn, reckless, and act know-it-all about everything. believe it or not, it is true. for example, these days I found out that I am very much into movies. then, I immediately filled myself with a bunch of good movies that I found on WatchMojo or Cinecrib. and suddenly the other day, I felt like I know everything about cinema and I think from now on I can label myself as a cinephile. if you found this blog before I posted this rant, you...

Film Favorit

✧・ inglorious basterds adalah sebuah fanfiksi yang dikemas dalam format film layar lebar. melalui film ini, quentin tarantino memberikan alternatif cerita tentang sejarah kehancuran jerman nazi dan hitler dengan elemen-elemen sinema yang mengasyikan untuk diikuti. dibawakan dengan naskah yang ditulis dengan rapih dan ciamik, susah rasanya bagi saya untuk enggak jatuh cinta sama film ini.  ✧・ the departed adalah film leonardo dicaprio pertama yang bikin saya nonton ulang sampai berkali-kali. bukan cuma itu, lewat film ini pula saya kenal martin scorsese. film-film martin memang bukan citarasa semua orang. tapi begitu nonton the departed saya tau bahwa inilah genre saya! the departed bercerita tentang dua sisi koin yang berbeda. tentang dua orang pemuda yang saling mengejar tanpa tahu satu sama lain. terlepas dari benar atau salah keduanya harus tetap menerima bayaran atas perbuatan mereka. cops or criminals, when you're facing a loaded gun, what's the difference ? ...

Six Episodes Of Doubt

Enam episode yang bikin saya bertanya-tanya 'how the fuck did Mehmed conquered this city?'. Bukan berarti saya enggak tahu sejarahnya, folks. Saya tahu benar bagaimana Mehmed II mengepung Konstatinopel dua bulan lamanya sebelum mengklaim kota itu dan mengganti namanya menjadi Istanbul. Saya juga sangat tahu menaklukan kota, pusat peradapan kristen ortodoks yang dikelilingi tembok empat layer tak tertembus hampir 1.700 tahun lamanya tidak pernah jadi hal yang mudah. Termasuk untuk Mehmed. Kalau teman-teman belum tahu. Ijinkan saya memberitahu. Baru-baru ini Netflix bikin serial dokumenter bertajuk Rise of Empires . Di season pertamanya, serial ini memberikan kehormatan kepada Mehmed, dengan menceritakan kembali ke'ambis'anya membuktikan hadist nabi tentang penaklukan ibu kota Bizantium tersebut. Serial ini bukan film pertama tentang Penaklukan Konstatinopel yang pernah saya tonton. Fetih 1453 (2012) arahan Faruk Aksoy adalah pengalaman pertama saya mengamat...

Gundala : Cukup Untuk Memulai Sebuah Cinematic Universe

Begitu Joko Anwar bilang Abang Sancaka akan terbang di bioskop tanah air mulai tanggal 29 Agustus lalu, aku langsung; save the date! Sebagai fans berat MCU, aku selalu mendamba-dambakan Indonesia punya franchise superheronya sendiri. Kalau diingat-ingat, sebenarnya Gundala sudah terdengar gaungnya sejak 2016 lalu. Saat itu, kabarnya Gundala akan digarap oleh Hanung Bramantyo. Tapi tiba-tiba saja Gundala kembali. Kali ini enggak sendirian, tapi dengan Jagat Sinema Bumi Langit. Makanya, aku bener-bener excited. Langsung saja aku pesan tiket, untuk nonton Abang Sancaka, di hari pertama! Sancaka kecil, hidup diperkampungan kumuh. Ayahnya seorang buruh yang digaji pas-pasan. Hanya bisa berdemo tanpa tahu kapan ditanggapi. Ketika suatu saat aspirasi Sang Ayah didengar, nyawa lah yang menjadi bayaran. Sancaka yang masih SD, harus kehilangan Ayah. Lalu, Ibu--segera setelahnya. ' Belajar, nggak ikut campur urusan orang lain. Kalau lo ikut campur urusan orang lain. Idup lo bakal susah...

Bumi Manusia Yang Nggak Semanusia Itu

Aku masih ingat banget waktu temenku cerita. Dia bilang, Iqbal akan kembali membintangi sebuah judul pilem baru! Aku ketawa, Opo lho? Dilan 3?  (Apa emang? Dilan 3?), kataku dengan muka senewen. Maklum, masih kebayang-bayang. Ketika dia bilang judul pilemya 'Bumi Manusia'--adapatasi novel Pram, pula!--aku terkejoed bukan main. Persis reaksiku sewaktu Hugh Jackman memutuskan pensiun dari Wolverine, aku penasaran, Apakah Iqbal bisa pull-off seorang Minke dari stigma Dilan? Minke, seorang pria muda yang selalu haus akan ilmu pengetahuan. Tapi ngebet pengen jadi londo.  Maklum, ketika Surhoff (teman sekelasnya di HBS. Setengah Belanda) mengajak dia berkunjung ke tempat kawan klub sepak bolanya, dia mau-mau saja. Disana Minke bertemu dengan keluarga Melemma. Robert Melemma (Giorgino Abraham), anak tertua keluarga itu. Annaleise (Mawar Eva De Jough), si mawar cantik tiada tanding, dan Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febrianti), seorang nyai yang jauh dari interprestasi Minke tentang pe...

Sama Peter, Aku Juga Kangen Tony

Nonton kali ini, nggak sama Isah--partner MCUku--karena tanggal rilisnya telat kuketahui wkwk. Berakhir menonton di hari ke-3, bersama dengan penonton lain yang sekedar 'pengen tau', yang pada leaving studio sebelum post credit scene muncul. Akhirnya aku ngajak temenku yang nggak demen MCU, paling enggak dia kenal Peter Parker dan fansnya Tom Holland pula. Aku sendiri tertarik nonton sekuel Spiderman MCU ini bukan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Tetapi lebih kepada penasaran sama performa si ganteng Jake Gyllenhaal yang terakhir kali kulihat begitu mempesona di Source Code (2011) yang kutulis reviewnya juga di blog ini. Telah begitu lama sejak The Blip berlalu, aktivitas sekolah Peter kembali seperti biasanya. Anak-anak yang melewati The Blip akan mengulang ajaran, sedangkan anak-anak yang lain telah lulus dan menjalani kehidupan dewasanya. Peter yang kini telah menjadi superhero kesayangan New York justru masih digiring ketakutan ketika Iron Man tak lagi berk...

Sereal Enak, Tapi Bukan Koko Krunch

You can be quite amusing when you want to be, John Moore (Sara Howard - The Alienist) Hei, hei hei! Gimana liburanya? Sudah masuk states ngebosenin belum? Kalo aku sih kayanya udah mulai ngebosenin ya. Terutama kebiasaan morning person, yang masih tetap berlakan meskipun udah liburan. Jadi harus bantu-bantu di dapur, deh. Ngeselin! wkwk. Namun, gaes. Diantara rutinitas membosnkan ini, selalu ada serial lezat yang menunggu untuk dilahap! Eits, bukan serial yang Koko Kruch ya! Tapi serial-serial televisi, netflix atau webseries yang mungkin bisa menemani waktu luang kalian selama liburan. Kalau ada serial bagus yang belum kutulis, bagi-bagi di kolom komentar ya! Happy nolep! Janji Tropicana Slim dan Yandy Laurens is back on colaboration ! Setelah sukses dengan web-series SORE - Istri Masa Depan, yang menuai banyak pujian. Mereka kembali lagi nih! Dibintangi Darius, Ringgo, dan Widika Sidmore, Janji membawa kita menyelami drama percintaan-- plus , persahabatan--antara Naya (Wi...

A Great Story That Cost Everything

Aku tahu betul, bikin review Endgame sekarang adalah telat. Tapi ketahuilah teman-teman, aku perlu steady  dulu sebelum nulis sesuatu yang terkait dengan akhir waralaba franchise  kesayanganku ini. (Juga memenuhi petisi Russo Brothers untuk nggak spoiler, sampai petisi itu di hapus hampir sebulan lalu) Aku nonton sama temenku waktu itu, Isah namanya. Karena kita berdua emang se geek  itu sama Marvel, kita udah berencana nonton Avengers 4 di hari pertama sejak kita berdua selesai nonton Avengers : Infinity War (dan ngelengkapin semua fim solo superheronya sebelum ini). Sayangnya kita kebagaian kursi di hari kedua, dan karena beberapa kendala kita telat masuk bioskop. Untung, nggak ngelewatin adegan penting. Film dibuka dengan Clint Barton, Hawkeye (Jeremy Renner) yang sedang piknik dengan keluarganya tidak jauh dari safehouse  yang sebelumnya pernah dikunjungi rekan kerja superheronya di Avengers : Age of Ultron. Clint yang waktu itu sedang cuti, tidak tahu menah...

I share my spotify's saved playlist called chill

chill INFORMAL. NORTH AMERICAN   very relaxed or easy going. so, in my own opinion, all of these songs that entered this playlist considered as a song with a very relaxed beat, rhyme, and lyrics as well. but, (warning) if you don't agree with me, tell me why at comments section! IU - BBIBBI Why Don't We - Why Don't We Just can't find the original version. so, i introduce you, Matt Walden a very talented soundcloud artist! galdive - lotus Post Malone - Sunflower Post Malone wants you to give them some love by listening to Sunflower from every stream app available! *evil laugh* Stars and Rabbit - Man Upon The Hill bonus! Float - Sementara p/s : saya menjadi anak indie, entah sejak kapan wkwk. and, in case u guys wondering, the guy in thumbnail is lee jin wook.